Friday, September 22, 2006
sebuah pengakuan
Sebuah pengakuan
pengakuan??? bukan..bukan..hmm sebaiknya "mengatakan" saja.
"pengakuan" kesannya aku sudah melakukan satu kesalahan.
Ya, aku ingin mengatakan bahwa aku telah merasakannya.
Rasa apa? mengapa rasa itu ada?
yang pasti bukan rasa lelah yang setiap hari hinggap di otak ku yang selalu bergumul kasak kusuk pekerjaaan, dari waktu ke waktu.
mengapa rasa itu ada?
entah lah...rasanya sangat menyenangkan.
rasa yang tumbuh menebal seiring dengan pertemuan-pertemuan kami, aku dan dia.
dan akhirnya aku mengatakannya....
Ya aku menyayangi dia :)
pengakuan??? bukan..bukan..hmm sebaiknya "mengatakan" saja.
"pengakuan" kesannya aku sudah melakukan satu kesalahan.
Ya, aku ingin mengatakan bahwa aku telah merasakannya.
Rasa apa? mengapa rasa itu ada?
yang pasti bukan rasa lelah yang setiap hari hinggap di otak ku yang selalu bergumul kasak kusuk pekerjaaan, dari waktu ke waktu.
mengapa rasa itu ada?
entah lah...rasanya sangat menyenangkan.
rasa yang tumbuh menebal seiring dengan pertemuan-pertemuan kami, aku dan dia.
dan akhirnya aku mengatakannya....
Ya aku menyayangi dia :)
Friday, May 12, 2006
pengertian
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain...
Wednesday, April 12, 2006
"Beauty can't amuse you, but brainwork – reading, writing, thinking – can"
Wednesday, March 29, 2006
Andaikan kau datang
judulnya agak meragukan karena gak hapal... ^_^
terlalu indah dilupakan
terlalu sedih dikenangkan
setelah aku jauh berjalan
dan kau ku tinggalkan
betapa hatiku bersedih
mengenang kasih dan sayang mu
setulus pesanmu kepada ku
engkau kan menunggu
andaikan kau datang kembali
jawaban apa yang kan ku beri
adakah jalan yang kau temui
untuk kita kembali lagi
betapa hatiku bersedih
mengenang kasih dan sayang mu
setulus pesanmu kepada ku
engkau kan menunggu
bersinarlah bulan purnama
seindah serta tulus cintanya
bersinarlah terus sampai nanti
lagu ini ku akhiri
judulnya agak meragukan karena gak hapal... ^_^
terlalu indah dilupakan
terlalu sedih dikenangkan
setelah aku jauh berjalan
dan kau ku tinggalkan
betapa hatiku bersedih
mengenang kasih dan sayang mu
setulus pesanmu kepada ku
engkau kan menunggu
andaikan kau datang kembali
jawaban apa yang kan ku beri
adakah jalan yang kau temui
untuk kita kembali lagi
betapa hatiku bersedih
mengenang kasih dan sayang mu
setulus pesanmu kepada ku
engkau kan menunggu
bersinarlah bulan purnama
seindah serta tulus cintanya
bersinarlah terus sampai nanti
lagu ini ku akhiri
Friday, March 24, 2006
saya sadar
saya sadar itu salah..tapi masih saja saya menganggap itu suatu pengorbanan
saya masih berharap yang saya lakukan "salah" saat ini akan berbuah kebaikan dimasa depan...mungkinkah? bukankan suatu kebaikan datang dari suatu kebaikan? dapatkah kesalahan ini disebut pengorbanan? ataukah ini bagian dari "kesakitan" sebelum meraih "cahaya"???
saya hanya berusaha...meminimalkan kesalahan
tapi, tetap masih mengharapkan kebaikan di masa datang
Lya
saya masih berharap yang saya lakukan "salah" saat ini akan berbuah kebaikan dimasa depan...mungkinkah? bukankan suatu kebaikan datang dari suatu kebaikan? dapatkah kesalahan ini disebut pengorbanan? ataukah ini bagian dari "kesakitan" sebelum meraih "cahaya"???
saya hanya berusaha...meminimalkan kesalahan
tapi, tetap masih mengharapkan kebaikan di masa datang
Lya
Monday, March 20, 2006
Single???
Wanita Jepang lebih suka memelihara anjing ketimbang menikah
Di zaman ini, tak mendapat jodoh di ambang usia 30-an bukan masalah lagi.
Baju pengantin yang anggun menawan tak lagi menarik minat wanita modern.
Apakah menjadi wanita single lebih menyenangkan?
Survei di Jepang menunjukkan hal itu.
Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan surat kabar Yomiuri, 7 dari 10 wanita lajang di Jepang yakin mereka benar-benar bahagia dengan hidup sendiri alias tidak menikah.
Jumlah wanita yang enggan menikah ini terus meningkat rata-rata 10 persen dari tahun ke tahun. Apalagi hidup membujang tak lagi dipandang buruk di masyarakat, seperti di zaman dulu.
Sepanjang mereka bekerja, bisa menghidupi diri sendiri dan tidak merepotkan saudaranya, apalagi orang lain, orangtua biasanya secara lahiriah bisa menerima pilihan anaknya. Orang- orang sekitarnya belakangan ini juga bisa menerima. Kalaupun tidak, mereka sungkanbertanya langsung dan menjadikannya gunjingan saja. Penerimaan masyarakat terhadap mereka yang jomblo ini semakin terbuka, terutama di kota-kota besar di mana orang ingin mengaktualisasikan diri secara maksimal dan merasa tak nyaman jika pasangan turut mengontrol atau malah mengganggu kariernya. Komunikasi yang semakin terbuka antara orangtua dan anak juga membuat mereka dapat saling memahami pergeseran pandangan da lam soal jodoh.
Orang memilih hidup tanpa pasangan pastilah beralasan. Ada yang sebab patah hati, tak percaya pada lawan jenis, ingin kariernya tak terganggu, dan sebagian lainnya menganggap memang jodohnya belum tiba. Ada pula yang menghadapi masalah beda agama, beda prinsip, sampai kalau ngobrol tidak nyambung.
Selain di Jepang, wanita ogah menikah juga terjadi di Jerman.
Lebih dari 80 persen wanita single Jerman benar-benar bahagia tanpa keberadaan suami. Mereka juga mengatakan, hidup sendiri memberikan kebebasan untuk melakukan semua hal yang diinginkan. Demikian hasil survei yang diberitakan majalah Stern.
Dari 1.003 wanita yang ditanyai, hanya 2 persen yang menyatakan tidak bahagia berstatus single. Sebanyak 36 persen mengatakan akan tetap single karena lebih menyenangkan. Hampir 50 persen wanita itu mengatakan lebih suka single karena membuat rumah mereka tetap rapi. Alasan lain, menjadi wanita single membuat mereka tidak perlu memaksakan diri menonton acara olahraga di televisi untuk mendampingi suami.
Pemerintah Singapura sejak pertengahan tahun 1980-an juga menghadapi persoalan serupa, dengan semakin banyaknya wanita berpendidikan tinggi yang tidak kawin. Banyaknya wanita Singapura berpendidikan tinggi yang tidak menikah bahkan sempat membuat mantan PM Singapura Lee Kuan Yew prihatin.
Maraknya penelitian soal wanita jomblo ini muncul setelah ada peringatan tentang rendahnya tingkat kelahiran di sejumlah negara maju, seperti Jepang, Jerman dan Singapura karena banyak wanita yang menunda pernikahan atau malah tak mau menikah sama sekali. Di lain pihak, jumlah penduduk berusia tua semakin banyak.
Saat ini, tingkat kelahiran di Jepang begitu rendah, hanya 1,29 anak untuk setiap wanita -- salah satu yang terendah di dunia.
Rendahnya tingkat kelahiran selain mengakibatkan semakin menyusutnya jumlah tenaga kerja muda usia dan semakin membengkaknya jumlah penduduk usia tua, juga berdampak luas pada masalah ekonomi, sosial, bahkan problem kejiwaan di kalangan anak-anak muda.
Yang menarik dari survei yang dilakukan surat kabar Yomiuri adalah semakin tua responden yang ditanyai semakin sedikit yang mengatakan bahagia hidup melajang.
Survei memang menemukan 73 persen wanita lajang dan 67 persen pria bujang setuju jika wanita akan lebih merasa bahagia jika hidup sendiri alias tidak menikah. Namun, besarnya prosentase ini semakin mengecil seiring dengan bertambahnya usia responden.
Tengok saja, pada usia 20-an, 74 persen pria dan wanita yang ditanyai merasa yakin jika wanita lebih berbahagia jika melajang. Jumlah ini menurun menjadi 66 persen, ketika ditanyakan kepada responden berusia 30-an, dan semakin mengecil dengan angka 58 persen, ketika ditanyakan kepada responden berusia 40-an.
Barangkali saja mereka menyadari semakin tua hidup semakin "sepi" tanpa pasangan. Tapi kalau mendapat pasangan yang tidak tepat, repot juga, bakal tersiksa seumur hidup. Ah, serba salah memang ... (zrp/BBC)KCM/Jakarta.
Wednesday, March 15, 2006
Sedikit tentang RUUP
Jangan selalu berpikir kita adalah korban, maka selamanya kita akan tetap jadi korban.
Jangan berpikir kita berdandan, bekerja dll. untuk kaum pria.
Kita melakukan itu untuk kita sendiri, kehidupan kita.
Kita boleh menangis tapi jangan cengeng.
Tunjukkan pada orang sekitar kita bahwa kita punya otak bukan hanya perasaan melulu.
...tapi tidak melupakan kodrat kita sebagai wanita
Jangan berpikir kita berdandan, bekerja dll. untuk kaum pria.
Kita melakukan itu untuk kita sendiri, kehidupan kita.
Kita boleh menangis tapi jangan cengeng.
Tunjukkan pada orang sekitar kita bahwa kita punya otak bukan hanya perasaan melulu.
...tapi tidak melupakan kodrat kita sebagai wanita

